Ta'afullan Nisfu Sya'ban - Tradisi Dakwah Islam Nusantara

Apa sih maksud Islam Nusantara? Jangan berkata "Madzhab Nusantara", karena nanti melepas diri dari madzhab yang sudah populer dan mengklaim berganti dengan madzhab khas Nusantara. Madzhab Nusantara ini produknya orang "Liberal" karena memang orang liberal gaya politiknya melakukan teknik "Penyamaran" identitas. Madzhab Nusantara namun lebih ke Madzhab Western, anti Arab (katanya, jilbab itu budaya Arab, dll).

Maksud Islam Nusantara ya seperti yang sudah mendtradisi dari masa ke masa, menghasilkan berbagai bentuk budaya keislaman khas lokal yang berbeda-beda, namun dalam standar Madzhab Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah. Sumber budaya keislaman yang sudah mendradisi khas lokal adalah salah satunya berbentuk "Ta'afullan". Banyak sekali ta'afullan khas Islam Nusantara seperti Siram Pengantin, Ngelolosi (7 bulan kelahiran), Ngupati (4 bulan kehamilan), Ngrujaki (Siram 7 bulan kelahiran di awal kehamilan saja), Turun Tanah (Saat anak mau berjalan), dll.

Ta'afullan adalah bentuk doa yang disimbolkan dengan sesuatu dengan maksud tertentu. Ta'afullan memang bersumber dari ajaran Nabi SAW karena Nabi SAW sendiri pernah melakukan ta'affulan seperti "Siram Pengantin", gonta-ganti posisi sorban. Sekarang pun di Indonesia subur mentradisikan "Siram Pengantin" walau caranya banyak yang tidak bener seperti membuka aurot. Ini jenis ta'afullan yang sudah menjadi "Tradisi Nusantara". Apakah ini harus berkata, "Ini tradisi murni lokal"? Tidak, ini tradisi dari Arab yang sudah mentradisi di lokal.

Terlepas di atas, teringat tradisi waktu masih kecil ketika menjelang malam Nisfu Sya'ban. Ketika itu, banyak sekali anak-anak kecil yang berburu sumur ketika mau memasuki waktu maghrib. Tujuan meminum air yang katanya sedang menjadi "Air Zamzam" agar mendapat berkah Nisfu Sya'ban. Jelas, air sumur menjadi air zamzam hanya mitos saja. Tujuan utama dari "Ta'afulan" minum air sumur adalah mengharapkan agar "dibersihkan jiwa-raga" memasuki Nisfu Sya'ban". Tentu, dengan cara ini anak-anak akan mengerti tentang Nisfu Sya'ban dengan cara dakwah yang unik khas Islam Nusantara.

Sekarang, tradisi "Minum Air Zamzam Sumur" itu hilang karena sudah banyak yang memakai sanyo, hehe. Tentunya nilai kebersamaan anak-anak kecil memaknai Islam itu pudar. Namun tidak masalah, karena inti utama adalah mengenalkan dan menghayati makna Nisfu Sya'ban.

Kalau orang dulu cara dakwahnya hanya sekedar ceramah, saya tidak tahu bagaimana ketertarikan orang non Muslim dahulu kepada Islam. Namun faktanya adalah para ulama dulu, Wali Songo, selalu mempoulerkan simbolisasi-smbolisasi (ta'afullan) keislaman khas lokal untuk menarik perhatian pada Islam.

0 Response to "Ta'afullan Nisfu Sya'ban - Tradisi Dakwah Islam Nusantara"

wdcfawqafwef